
Oleh: H A Hasyim Muzadi Dalam dua tahun ini ketegangan dan konflik bernuansa agama menjadi persoalan yang krusial di Thailand. Saya bersama tim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diundang pemerintah Thailand pertama kali, pada Maret-April tahun 2005. Misi NU waktu itu adalah memberi masukan pemerintah Thailand untuk menyelesaikan konflik di tiga provinsi di Thailand Selatan, yaitu Yala, Pattani, dan Narathiwat.yang mayoritas penduduknya muslim. Pasca-penyerangan militer Thailand terhadap Masjid Krue Se di Pattani dan terbunuhnya 84 demonstran muslim di Tak Bai, Narathiwat (Oktober 2004). Dua peristiwa berdarah ini, telah mengundang keprihatinan Raja Thailand Bhumibol Adulyadej dan PM Thaksin Shinawatra. Dus, dengan demikian mencoreng pemerintahan Thaksin. Sejak terjadinya serentetan kekerasan di Thailand Selatan, sebenarnya sudah banyak upaya dilakukan guna memperbaiki hubungan dengan masyarakat Islam di Selatan itu. Program ini juga menjadi prioritas Thaksin dalam periode kedua masa pemerintahannya yang dilantik kembali menjadi perdana menteri pada 11 Maret 2005. Undangan terhadap PBNU merupakan bagian dari program ini dan Thailand menganggap NU sebagai kelompok Islam yang moderat dan ormas Islam terbesar di Indonesia. Sepanjang sejarah Indonesia merdeka, NU tak pernah menempuh jalan kekerasan untuk memperjuangkan aspirasinya. Selain itu, kultur masyarakat NU dinilai sama dengan budaya masyarakat Islam di Thailand Selatan. Karena itu, NU sangat dikenal masyarakat muslim Thailand Selatan.