@kumparan

Menurut dosen sosiologi Universitas Padjadjaran, Farah Firsanty, fenomena perempuan yang lebih banyak kuliah dibandingkan laki-laki adalah fenomena reversal of gender inequalities in higher education. Katanya, fenomena ini pun terjadi di negara-negara maju dunia. Farah menjelaskan, fenomena ini disebabkan oleh faktor demografik, sosiologis, ekonomik, sampai edukasional. Dari segi sosiologis, misalnya, saat ini diskriminasi terhadap perempuan sudah berkurang, baik di level pasar tenaga kerja, masyarakat, bahkan keluarga. “Untuk menjalankan peran sebagai istri dan ibu nanti di ranah domestik itu kan memerlukan skill. Contohnya, skill pengelolaan keuangan, kemampuan manajerial, edukator, dan konselor. Nggak apa-apa kuliah tinggi terus ujung-ujungnya ke rumah jadi ibu dan jadi istri. Emang kenapa?” katanya. Sementara bagi Izka, lulusan S1 Jurnalistik dan S2 Manajemen Komunikasi, pendidikan tinggi penting untuk bekal karier maupun kehidupan sehari-hari. “Kuliah di jurnalistik yang disiplin ilmunya kritis, yang paling kerasa itu ketika hamil, melahirkan, maupun fase-fase awal membesarkan anak adalah kemampuan untuk mengkritisi apakah hal ini mitos atau memang betul secara biologis,” ujarnya. 📸: Dok. kumparan,Instagram @farahfirsanty, AFP. Follow WhatsApp Channel kumparan untuk dapat Informasi terpercaya dikirim langsung ke WhatsApp kamu. Ketik kum.pr/WAchannel di browser kamu sekarang, agar bisa share informasi tanpa ragu. #focus #perempuankuliah #news #videonews #mahasiswa #perguruantinggi #universitas #politeknik #sarjanaperempuan #pendidikantinggi #perempuanberdaya #mahasiswaperempuan #bicarafaktalewatberita #kumparan

♬ original sound - kumparan - kumparan