@kumparan Fenomena horizontal mismatch terjadi ketika latar belakang pendidikan tidak sejalan dengan pekerjaan yang dijalani. Selain itu, ada juga vertical mismatch, yakni ketika tingkat pendidikan atau keterampilan tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Dody menjadi salah satu contoh. Lulusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini awalnya bercita-cita menjadi PNS, bahkan sempat ingin mengikuti jejak keluarga di sektor pemerintahan. Namun, setelah lulus, ia justru beralih ke dunia bisnis dan mendirikan event organizer di bidang olahraga, seperti Badminton Weekdays dan Minsoc Mania. Data menunjukkan fenomena ini cukup besar di Indonesia. Survei Populix mengungkap sekitar 30 persen masyarakat melamar pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang studinya, sementara 70 persen lainnya tetap mencoba melamar sesuai latar belakang pendidikan. Faktor utama yang dihadapi pencari kerja antara lain tingginya tuntutan pengalaman (63 persen), tingkat pendidikan (58 persen), serta terbatasnya lowongan sesuai jurusan (40 persen). Menurut Kepala Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana, horizontal mismatch sebenarnya hal yang wajar dalam masa transisi kerja. Namun di Indonesia, fenomenanya dinilai tidak normal karena dipengaruhi job friction, yakni ketidakseimbangan antara jumlah lulusan berpendidikan tinggi dan ketersediaan pekerjaan yang sesuai. Ia menilai keterbatasan lapangan kerja dan kurangnya koordinasi antara kebijakan pendidikan, industri, serta ketenagakerjaan membuat banyak lulusan akhirnya bekerja di luar bidang studinya. Sektor yang tumbuh pesat pun cenderung berada di ranah informal atau pekerjaan dengan kebutuhan keterampilan rendah. 📸: Dok. Dody Harry, Shutterstock/Ilustrasi. Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play. 📝: focus | snbt2026 | news | videonews | R176 | R120 | E025 | V200 #bicarafaktalewatberita #kumparan
♬ original sound - kumparan - kumparan