@kumparan

Di tengah hiruk-pikuk perlintasan sebidang di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, sosok Ismail (65) atau akrab disapa Babeh Is, tetap setia menjalankan perannya sebagai penjaga palang kereta selama lebih dari dua dekade. Dari pos sederhana, ia mengawasi lalu lintas kereta yang melintas di antara Stasiun Cawang dan Stasiun Tebet, membantu warga dan pengendara yang melintas di jalur tersebut agar tetap aman. Awalnya, pos penjagaan itu dibentuk sebagai inisiatif warga untuk memberdayakan mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Namun seiring waktu, keberadaannya justru menjadi vital, tidak hanya bagi warga sekitar, tetapi juga para pekerja dan kurir yang memanfaatkan jalur tersebut sebagai akses cepat. Berbekal pengalaman panjang, Babeh Is mengandalkan insting dan hafalan jadwal kereta untuk mengatur perlintasan, bahkan tanpa sistem pengamanan modern. Meski perlintasan kini sudah dilengkapi paving dan pembatas yang lebih layak berkat dukungan pihak KAI, kondisi kerja Babeh Is tetap penuh risiko dan tanpa penghasilan tetap. Ia bekerja bergantian dalam sistem shift dan hanya mengandalkan uang sukarela dari para pengguna jalan. Dalam sehari, pendapatannya tak menentu, bahkan bisa hanya sekitar Rp50 ribu per shift. Meski begitu, ia tetap bertahan, mengutamakan keselamatan para pelintas sebagai kepuasan utama dalam pekerjaannya. 📸: Dok. kumparan/Rayyan. Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play. 📝: focus | palangkereta | news | svl | R116 | E051 #bicarafaktalewatberita #kumparan

♬ original sound - kumparan - kumparan