@kumparan

Brian Yuliarto menyatakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tengah mendalami dugaan pemalsuan riset yang dilakukan sekelompok WNI untuk mengikuti konferensi ilmiah di Copenhagen, Denmark. Brian mengatakan pemerintah masih melakukan koordinasi dan pendalaman bersama pihak terkait untuk memastikan fakta-fakta yang sebenarnya, termasuk status pihak yang terlibat, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia. Ia menegaskan penanganan kasus harus mengedepankan prinsip kehati-hatian dan verifikasi objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian. Menurut Brian, dugaan kasus tersebut berpotensi memengaruhi persepsi internasional terhadap integritas peneliti Indonesia. Namun, ia meminta publik tidak menggeneralisasi komunitas ilmiah Indonesia secara keseluruhan karena masih banyak peneliti dan akademisi yang bekerja secara profesional dan menjunjung standar etik. Brian juga menyebut berdasarkan informasi awal, pihak-pihak yang disebut dalam kasus tersebut tidak terindikasi sebagai dosen maupun peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Ia menjelaskan Indonesia memiliki mekanisme pengawasan integritas riset melalui perguruan tinggi, komite etik, LPPM, sistem penjaminan mutu akademik, hingga pemantauan dari Kemdiktisaintek dan BRIN. Sebelumnya, dugaan pemalsuan riset ini viral setelah diungkap peneliti Indonesia di University of Oxford, Wa Ode Dwi Daningrat. Ia menemukan dugaan kejanggalan dalam 19 abstrak ilmiah pada konferensi ISPPD 2026 di Copenhagen, Denmark. 📸: Dok. Antara, kumparan/Abisatya. Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play. 📝: focus | risetpalsuwni | news | videonews | R158 | E164 | V172 #bicarafaktalewatberita #kumparan

♬ original sound - kumparan - kumparan